Lompat ke isi utama

Tali Tipis Netralitas

Malaka tali

Pagi di sekretariat Pengawas kecamatan selalu punya aroma khas: wangi rumput basah bercampur kopi hitam yang diseduh buru-buru. Yohan duduk di teras belakang posko pengawasan, menatap layar ponselnya yang terus bergetar. Grup pengawas desa baru saja ramai.
“Pak, ini ada ASN foto bareng calon bupati di pasar. Saya kirim di grup e,” tulis Sinta, pengawas dari Desa Lihawe.
Yohan membuka foto itu. Seorang pria berbatik berdiri di samping calon bupati, tersenyum sambil mengacungkan jempol. Di latar belakang terlihat spanduk bertuliskan “Belanja Murah Bersama Calon Kita.” Nama pria itu: Markus, seorang staf  di kantor kecamatan yang sudah dikenal ramah dan jarang bikin masalah.
Yohan menarik napas pelan. Foto itu sederhana, tapi maknanya bisa runyam. Dalam dunia pengawasan, senyum di waktu yang salah bisa berubah jadi laporan pelanggaran.
Ia menatap langit yang mulai cerah. “Kadang, netralitas itu seperti berjalan di tali tipis,” pikirnya. “Salah langkah sedikit, bisa jatuh.”
Siang hari, Yohan datang ke kantor kecamatan. Udara panas, suara kipas angin berputar malas. Markus sedang sibuk menata berkas di meja pelayanan.
“Selamat siang, Pak Markus,” sapa Yohan sopan. “Boleh saya minta waktu sebentar?”
“Oh, Pak Yohan. Silakan. Ada apa?”
Yohan memperlihatkan layar ponselnya. “Ini foto yang beredar, Pak. Saya mau memastikan kejadian sebenarnya.”
Markus menatap layar itu lama sekali. “Aduh, Pak… itu cuma foto biasa. Calon itu mampir beli pisang di lapak istri saya. Tiba-tiba minta foto bersama. Masa saya tolak di depan orang ramai?”
Yohan tersenyum kecil. “Saya paham, Pak. Kadang situasinya serba salah. Tapi begini, di dunia maya, foto tidak bicara tentang niat. Foto hanya bicara tentang kesan. Dan kesan itu yang bisa jadi masalah.”
Markus tertunduk. “Saya cuma pikir ini hal kecil, Pak. Tapi mungkin orang lain lihatnya besar.”
“Betul, Pak,” jawab Yohan pelan. “Di Masa-masa seperti ini sangat sensitif Netralitas ASN itu bukan soal siapa yang didukung, tapi bagaimana kita menjaga diri supaya tak tampak berpihak.”

Hening beberapa saat. Di luar jendela, anak-anak sekolah lewat sambil tertawa. Yohan menatap dinding ruang itu di sana tergantung foto presiden dan lambang Garuda yang mulai kusam warnanya.
Ia menunjuk ke arah itu. “Pak Markus, Bapak sudah punya lambang yang lebih besar dari calon mana pun, Garuda itu. Lambang pengabdian untuk semua warna, bukan satu warna.”
Markus menatapnya lama, lalu tersenyum lemah. “Saya lupa hal itu, Pak. Kadang karena terlalu dekat dengan orang, kita lupa jarak yang harus dijaga.”
“Tidak apa, Pak. Yang penting sadar sebelum salah jadi kebiasaan,” jawab Yohan sambil menepuk bahu Markus.
Sore itu, sekembalinya dari kantor kecamatan, Yohan bergegas ke posko pengawasan. Ia membuka buku laporan, mencatat dengan tenang hasil pengawasan hari itu. Yohan menutup buku itu, meneguk sisa kopi yang mulai dingin. Dalam hati ia berkata pelan,
“Pengawasan bukan untuk mencari salah, tapi menjaga agar yang benar tidak hilang.”
Matahari sore tenggelam di balik bukit. Di posko kecil itu, Yohan merasa tenang karena hari itu, ia tidak hanya menulis laporan hasil pengawasan, tapi juga menuliskan sebuah pelajaran:
bahwa netralitas bukan sekadar aturan, melainkan cermin kehormatan bagi mereka yang melayani negara.
 

Malaka, Oktober 2025