Lompat ke isi utama

JALAN SUNYI SEORANG PENGAWAS PEMILU

klao

JALAN SUNYI SEORANG PENGAWAS  PEMILU

Oleh: Hilarius Bria Suri

Opini reflektif Pengabdian dan Pengawasan Demokrasi di Wilayah Perbatasan NKRI

Di tapal batas negeri ini, kami berdiri dalam diam.
Jauh dari pusat perhatian, namun dekat dengan makna kesetiaan.
Tak ada sorot lampu dan gemuruh tepuk tangan.
Yang kami jaga hanyalah merah putih dan suara rakyat sering kali tanpa saksi.

Menjadi Bawaslu di wilayah perbatasan bukan sekadar menjalankan tugas. Ia adalah jalan sunyi yang dipilih dengan sadar. Jalan yang dipenuhi keterbatasan jarak, fasilitas, dan akses. Namun di sanalah pengabdian diuji dan dimurnikan.

Kami mengawasi demokrasi dari tempat-tempat yang jarang disebut.
Dari desa-desa dengan sinyal yang tak menentu, dari perjalanan panjang yang melelahkan, dari malam-malam senyap tanpa sorotan. Dalam kondisi seperti itu, yang tersisa hanyalah sumpah jabatan dan nurani, dua hal yang tak boleh padam.

Di perbatasan, demokrasi diuji tanpa kamera dan tanpa panggung.
Hanya ada aturan yang harus ditegakkan, keberanian untuk bersikap jujur, serta keyakinan bahwa satu suara rakyat betapapun kecil dan jauh adalah kehormatan bangsa.

Kami memahami bahwa kelalaian kecil di ujung negeri dapat berdampak besar di pusat. Ketidakadilan yang dibiarkan di pinggiran dapat meruntuhkan kepercayaan terhadap demokrasi secara keseluruhan. Karena itu, kami memilih tetap setia meski lelah, meski sepi, meski tak selalu terlihat.

Kesetiaan ini bukan pada jabatan atau pujian.
Kesetiaan ini adalah pada hukum, pada keadilan, dan pada amanah rakyat yang harus dijaga dengan jujur dan bertanggung jawab.

Penutup

Tuhan,
Engkau yang melihat kerja dalam diam, catatlah pengabdian sunyi ini sebagai doa bagi Indonesia.
Kuatkan langkah kami, jernihkan nurani kami,
agar demokrasi tetap utuh, adil, dan bermartabat
dari batas terluar negeri hingga ke pusat kekuasaan.
Amin.