Lompat ke isi utama

Menjaga Suara Rakyat di Tengah Badai

Kisah

Menjaga Suara Rakyat di Tengah Badai

(Catatan Seorang Pengawas TPS di Desa Kamanasa, Malaka Tengah)

Tanggal 14 Februari 2024 menjadi momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Hari itu, saya bertugas sebagai Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) di TPS 16, Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, dalam pelaksanaan Pemilu serentak: Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten.

Tepat pukul 13.00 WITA, langit yang sejak pagi mendung mulai menggila. Tanpa peringatan, hujan deras disertai angin kencang menghantam TPS kami. Hembusan angin begitu kuat hingga mengguncang tenda TPS dan membuat para petugas serta pemilih yang masih berada di lokasi panik.

Sebagai pengawas TPS, saya segera mengambil langkah sigap. Saya meminta dua petugas Linmas untuk segera mengamankan kotak suara. Saat itu, para KPPS baru saja hendak beristirahat makan siang, sementara masih ada sejumlah pemilih tambahan yang belum sempat menggunakan hak suaranya.

Hujan semakin lebat, disertai angin yang terus-menerus merobek sisi tenda. Bersama para KPPS, kami dengan cepat membungkus sisa surat suara dan perlengkapan lainnya menggunakan plastik pelindung kotak suara. Kami kemudian berdiri melingkar, melindungi bungkusan-bungkusan tersebut dengan tubuh kami agar tidak terkena air.

Namun usaha itu belum cukup. Air terus merembes, dan hujan belum juga reda. Saya memutuskan untuk melepas atribut PTPS, lalu berlari ke rumah warga terdekat untuk meminjam terpal. Dengan bantuan terpal itu, kami menutupi seluruh perlengkapan pemilu yang masih tersisa. Baru setelah sekitar satu jam, hujan mereda dan kami bisa kembali melanjutkan proses pemungutan suara.

Pelajaran dari Tengah Hujan

Dari peristiwa itu, saya belajar bahwa mengawasi pemilu bukan hanya soal mencatat pelanggaran atau memeriksa daftar hadir, tetapi juga tentang kepekaan, kesiapsiagaan, dan keberanian mengambil tindakan tepat di saat genting. Demokrasi bisa terancam bukan hanya oleh manipulasi atau politik uang, tapi juga oleh alam yang tidak bisa kita prediksi.

Namun satu hal yang pasti: dengan kolaborasi, tanggung jawab, dan komitmen, suara rakyat tetap bisa dijaga. Di tengah hujan dan angin, kami memilih untuk tetap bertahan. Karena kami percaya, setiap suara adalah hak yang tak boleh hanyut, dan demokrasi adalah janji yang harus terus diperjuangkan — bahkan di bawah derasnya langit Kamanasa.                                                                                                             

Biodata Penulis:
Vigi Bere adalah seorang pemuda asal Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kepemudaan di desanya. Selain menjadi Pengurus Karang Taruna, Vigi juga dikenal sebagai anggota OMK (Orang Muda Katolik) yang aktif dalam kegiatan gereja dan komunitas lokal.

Pada Pemilu 2024, Vigi dipercaya menjadi Pengawas TPS 16 di desanya. Dedikasi dan sikap tanggapnya dalam menjaga proses pemilu, bahkan di tengah cuaca ekstrem, menjadi cerminan semangat pengawasan partisipatif yang tumbuh dari rakyat biasa.

Bagi Vigi, mengawasi pemilu bukan sekadar tugas, tapi panggilan untuk menjaga hak dan harapan warga desa agar tak hanyut oleh badai—baik yang datang dari langit, maupun dari praktik tak sehat dalam demokrasi.