|
Bawaslu, Kopi, dan Hal-Hal yang Tak Masuk Laporan
Bawaslu duduk di kursi plastik,
menghadap sawah,
mendengar suara jangkrik
lebih nyaring daripada suara rakyat.
Pemilu datang
seperti musim kemarau:
banyak janji turun,
tapi hujan tak selalu ikut.
Di ujung kampung,
seorang ibu bertanya,
“Kalau saya salah pilih,
apa saya boleh ganti kertas suara dengan doa?”
Di batas negeri,
bendera berkibar pelan.
Yang satu merah putih,
yang satu merah kuning.
Angin tak pernah memilih sisi,
tapi selalu tahu ke mana arah curiga.
Petugas Bawaslu mencatat,
menghitung,
dan menahan tawa.
Kadang demokrasi
datang dengan topi dan senyum palsu,
lalu pulang membawa bensin
dan bingkisan sembako.
Tapi Bawaslu tetap duduk.
Kakinya di tanah,
matanya di suara.
Ia tahu:
di Malaka,
menjaga pemilu
adalah menjaga batas
antara kita dan kehilangan makna.
Malaka, April 2025
Karya ini adalah salah satu karya yang lolos kurasi dan masuk 20 besar karya pilihan juri dan dibukukan dalam antologi Warna Kitab Suara oleh Bawaslu Kulon Progo