Lompat ke isi utama

PEREMPUAN DI ANTARA DUA DUNIA: REFLEKSI ATAS BEBAN GANDA PENJAGA 23.59

2359

Tulisan Melpi Minalria Marpaung berjudul “Beban Ganda Penjaga 23.59” dalam Buku Srikandi Mengawasi: Kisah Perempuan Pengawas Pemilu dalam Mengawasi Pemilu 2024, bukan sekadar catatan pengalaman seorang perempuan pengawas pemilu. Ia adalah potret ketangguhan yang diam-diam tumbuh di antara dua ruang yang sering kali bertabrakan: ruang publik dan ruang domestik. Melalui kisahnya, Melpi mengajak kita menyelami makna sebenarnya dari pengabdian bukan hanya pada demokrasi, tetapi juga pada keluarga dan kehidupan itu sendiri.
Ada sesuatu yang lirih namun kuat dalam setiap paragraf tulisannya. Di sana, kita melihat perempuan bukan sebagai sosok yang mengeluh di tengah padatnya tanggung jawab, tetapi sebagai pribadi yang berdiri tegak di perlintasan dua panggilan: menjaga integritas pemilu dan menjaga kehangatan rumah. Dalam setiap “pukul 23.59”, ada pergulatan yang tak kasat mata antara waktu yang dicuri tugas dan waktu yang dirindukan anak-anak.
Refleksi ini menyentuh lapisan yang lebih dalam dari sekadar isu kesetaraan gender. Ia berbicara tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana perempuan khususnya mereka yang bekerja di lembaga publik seperti Bawaslu terus menegosiasikan ruang dan waktu agar tetap bisa setia pada dua hal yang sama berharganya: pengabdian dan kasih. Di sini, “beban ganda” bukan lagi sekadar istilah akademik, melainkan realitas hidup yang dijalani dengan ketulusan.
Kisah sederhana tentang anak yang ingin menunjukkan “ini mama saya” kepada teman-temannya menjadi momen paling puitis sekaligus paling menyentuh dalam tulisan ini. Ia memperlihatkan bagaimana pekerjaan yang tampak keras dan kaku di lapangan sesungguhnya mengandung nilai-nilai lembut yang menumbuhkan kebanggaan, cinta, dan karakter di dalam keluarga. Pengawasan pemilu, dalam konteks ini, bukan hanya kerja teknokratis; ia juga menjadi pendidikan moral yang menular secara sunyi kepada generasi berikutnya.
Melalui “Beban Ganda Penjaga 23.59”, kita diingatkan bahwa perempuan pengawas pemilu tidak hanya berjuang melawan pelanggaran di bilik suara, tetapi juga melawan stereotip dan ekspektasi sosial yang masih menempatkan perempuan dalam batas-batas sempit. Ia memikul dua dunia di bahunya, dan justru di sanalah letak keagungannya  bukan karena ia mampu melakukan semuanya sekaligus, tetapi karena ia memilih untuk tetap setia menjalani keduanya.
Tulisan ini pada akhirnya mengajarkan bahwa demokrasi yang berkeadilan juga membutuhkan ruang empati terhadap mereka yang menjaganya. Di balik setiap rapat malam, laporan panjang, dan pengawasan hingga tengah malam, ada sosok perempuan yang tetap mencoba hadir di dua dunia. Ia bukan hanya “penjaga 23.59”, tetapi penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam demokrasi itu sendiri.


 Penulis : Aprianus Putrason Niron