Lompat ke isi utama

Malam Sebelum Pemungutan Suara

Malma sebelum tidur

Catatan Reflektif: Malam Sebelum Pemungutan Suara


Tanggal 26 November adalah satu malam yang sulit saya lupakan. Sehari sebelum masyarakat Malaka menyalurkan hak pilih, saya bersama beberapa staf turun ke lapangan untuk patroli pengawasan. Dengan dua kendaraan operasional, kami berkeliling memastikan bahwa suasana menjelang pemungutan suara aman dan terkendali. Setiap kali menjelang pencoblosan, ketegangan memang selalu meningkat, dan di malam itu, saya merasakan beban tugas seolah lebih berat dari biasanya.
Jalanan gelap dan sepi, hanya lampu kendaraan yang menembus pekat malam. Mobil pertama melaju di depan, sementara saya dan tim berada di mobil kedua. Kami singgah di beberapa titik, berbincang sebentar dengan pengawas desa, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Hening malam membuat kami waspada, seolah setiap tikungan menyimpan cerita yang tidak terduga.

Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika tiba-tiba suara keras menghantam kap mobil yang kami tumpangi. Semua orang sontak terkejut, dan rasa panik sejenak menguasai suasana. Saat kami berhenti dan memeriksa, terlihat bekas lecet yang cukup jelas di bagian atas kap mobil. Kami memang tidak menemukan benda yang menghantam, tetapi dari bentuk hantaman dan goresannya, kami menduga kuat bahwa itu adalah besi beton yang dipotong pendek dan dilempar dengan keras.
Yang membuat kami semakin heran adalah kenyataan bahwa mobil pertama sama sekali tidak terkena. Padahal jaraknya hanya beberapa meter saja, cukup dekat untuk bisa ikut menjadi sasaran jika hantaman itu asal-asalan. Hal ini membuat kami curiga bahwa lemparan tersebut memang diarahkan khusus kepada mobil kami. Namun karena kawasan yang kami lewati dikenal sebagai daerah rawan dan kerap terjadi kejadian serupa, kami tidak menganggapnya sebagai bagian dari pelanggaran, melainkan risiko yang melekat pada medan pengawasan.
Meski sempat waswas, kami tidak membiarkan insiden itu menghalangi tugas. Patroli tetap dilanjutkan hingga selesai, dan kejadian tersebut kami simpan sebagai catatan pengalaman pribadi, bukan laporan resmi. Kami sadar bahwa pengawasan tidak hanya menuntut ketelitian pada aturan, tetapi juga keberanian menghadapi kondisi yang kadang sulit diprediksi. Demokrasi, bagi kami, bukan hanya wacana, tetapi sesuatu yang dijaga dengan kesiapan menghadapi segala risiko.

Keesokan harinya, 27 November, hari pencoblosan, kami kembali turun ke lapangan sejak pagi. Pengawasan di TPS tetap dilakukan dengan penuh kesungguhan, memastikan proses berjalan lancar dan tertib. Meski mobil kami mengalami lecet akibat hantaman malam sebelumnya, semangat untuk mengawal pemilu tidak berkurang sedikit pun. Bahkan, sebagai warga negara, saya tetap hadir di TPS untuk memberikan suara saya, karena mengawasi demokrasi juga berarti ikut serta di dalamnya.
Bagi saya, kejadian itu adalah pengingat bahwa jalan demokrasi tidak selalu mulus. Kadang ada ancaman, kadang ada bahaya yang tidak terlihat, tetapi semua itu tidak boleh melemahkan tekad. Mobil kami mungkin lecet, namun keyakinan untuk terus menjaga suara rakyat tetap utuh. Malam itu menjadi bukti kecil bahwa demokrasi tidak hanya dijaga dengan aturan, tetapi juga dengan keberanian dan keteguhan hati.


Oleh: Putra Niron